Monday, December 26, 2022

Tentang Ibu : Keberangkatan Ibu

Hari itu di bulan Oktober tahun 2022 semuanya berjalan seperti biasa. Aku yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di salah satu kota terbesar di Indonesia menjalankan aktivitas kerjaku seperi biasa setiap hari. Kedua orangtuaku di kampung halaman dalam keadaan sehat dan selalu menjalin komuikasi denganku hampir setiap hari melalui telepon genggam. Adikku yang baru lulus sarjana di kota yang sama dengan tempatku bekerja juga tengah berada di kota perantauan tempat kami mengadu nasib untuk mencari pekerjaan. sampai di satu hari pada tanggal 13 Oktober 2022, ayah menelponku untuk segera pulang karena kondisi kesehatan ibu yang secara tiba-tiba menurun dan harus di rawat di rumah sakit daerah di kampungku.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghubungi atasan di kantorku untuk meminta cuti beberapa hari agar aku bisa langsung pulang ke kampung halaman untuk merawat orangtuaku. Setelah menemui atasan, aku segera menghubungi penyedia jasa trasportasi sebagai transportasi untuk pulang ke kampung halaman. Jarak dari kota tempatku bekerja dan kampung halaman yang terbilang cukuo jauh membuat jadwal keberangkatan transportasi umum yang sudah terjadwal satu waktu dalam sehari yaitu di malam hari membuat aku tidak  bisa pulang pada saat itu juga. Jadi, aku berinisiatif untuk menyewa satu mobil pribadi dan satu supir untuk mengantarkan ku pulang dengan segera karena dalam pikiranku pada saat itu "lebih cepat lebih baik. uang bisa dicari, bakti untuk orangtua tidak akan dapat terulang kembali". 

Jarak dari kota tempatku bekerja dengan kampung halaman ditempuh dengan rata-rata waktu 10 hingga 12 jam. Pada saat berada di perjalanan menuju kampung, aku terus di telpon oleh ayah untuk mengetahui posisiku dan terus mengabarkan kalau kondisi ibu terus menurun. Pada saat itu aku tidak memiliki firasat apapun tentang ibu dan berpikir kalau ibu akan baik-baik saja setelah aku sampai di kampung nanti, sehingga pada saat di telpon aku tidak terlalu khawatir karena aku yakin kepulanganku adalah obat terbesar dari sakit yang ibu alami. 

Sampai di kampung halaman pada pukul 3 dini hari, aku langsung menuju ke rumah sakit daerah tempat tinggalku dan langsung bergegas menuju kamar ibu di rawat inap. Betapa hancur hati seorang anak lelaki melihat ratunya yang tergeletak di atas tempat tidur rumah sakit dengan kondisi tidak dapat membuka mata dan tidak dapat di ajak berbicara. Sakit hati terbesar anak lelaki bukan karena di sakiti karena wanita yang disukainya meninggalkannya, tetapi melihat ibu nya sakit dan dalam kondisi kritis.

Ayah pun menyambutku dan menjelaskan kondisi ibu saat ini. Aku yang saat itu hanya terdiam di hadapan ibu mencoba mencium tangan ibu dan membisikkan ke telinga ibu kalau aku sudah pulang. "Assalamualaikum mak.. aku udah pulang" ucapku. Ayah mencoba membantu membukan kedua mata ibu dengan tangannya agar bisa melihat aku. disitu aku melihat mulut dan mimik muka ibu yang ingin menangis tetapi tidak punya tenaga untuk menangis. "Ya Allah, untuk menangis saja ibu sudah tidak punya kekuatan lagi" ucapku dalam hati. 

Dengan mencoba menenangkan diri aku berusahan untuk menahan air mata agar ibuku tetap semangat dan tidak sedih, agar kondisi kesehatan ibu tetap stabil. ku berdiri di samping kasurnya dan ku pijit kakinya  dengan niat agar sakit ibu bisa sembuh walaupun cuma sedikit. setelah memijit kaki ibu sekitar setengah jam, aku mengambil wudhu dan sholat tahadjud di samping ibu. kalau dengan kekuatan medis sudah di ikhtiarkan, maka sekarang saatnya ku jatuhkan keningku ke bumi untuk memohon kepada Sang Maha Pengasih agar sakit yang ibu alami segera di angkat oleh-Nya.

No comments:

Post a Comment

Rintis Usaha : Dagang